JATIMTERBARU.COM, MALANG – Paguyuban Kawula Kraton Surakarta Malang Raya Menggelar Pengukuhan dan Kekancingan yang berlangsung di Pendopo Agung, Kabupaten Malang, Sabtu ( 1/8/2026).
Hadir dalam acara tersebut, Ketua Umum Swadek yang juga menantu SISKS Pakubuwana XII, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) DR. Eddy S Wirabhumi.
Dalam kesempatan kali ini, beliau menegaskan bahwa tantangan melestarikan identitas bangsa saat ini merupakan urgensi yang tidak dapat ditunda.
“Budaya bukan lagi sekadar warisan masa lalu yang statis, melainkan fondasi eksistensial bagi keberlangsungan sebuah bangsa,” ujarnya.
Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) DR. Eddy S Wirabhumi mengungkapkan bahwa tantangan dalam melestarikan identitas bangsa menjadi sebuah urgensi yang tak dapat ditunda.
“Budaya bukan lagi sekadar warisan masa lalu yang statis, melainkan fondasi eksistensial bagi keberlangsungan sebuah bangsa di masa depan,’ tuturnya.
Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Eddy Wirabhumi menegaskan bahwa kesadaran akan pentingnya budaya harus tertanam kuat di sanubari generasi muda.
Beliau mengingatkan kembali rekam jejak sejarah di mana Nusantara, pada abad ke-12, telah mampu memimpin Asia justru karena kekuatan dan keagungan budayanya.
Namun, sebuah ironi terjadi ketika bangsa ini sempat mengalami kemunduran akibat kecenderungan masyarakat yang lebih mengagumi budaya asing, baik dari barat maupun kawasan lainnya, dan melupakan akar tradisinya sendiri.
Dalam pandangan KPH Eddy Wirabhumi, pelestarian budaya tidak boleh bersifat eksklusif atau menjadi beban moral pihak keraton semata.
Budaya adalah milik kolektif yang harus dirawat bersama oleh seluruh elemen masyarakat, termasuk media massa dan generasi muda.
“Budaya ini bukan miliknya keraton saja, ini milik kita semua. Kita harus bergerak bersama melalui tindakan nyata (real action) di setiap daerah,” ujar beliau menekankan pentingnya sinergi inklusif tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, maupun strata pendidikan.
Berkaca pada evaluasi masa lalu, beliau menyoroti kegagalan konsep “kebudayaan nasional” yang sempat membingungkan arah kepribadian bangsa, di mana upaya tersebut justru sempat mematikan denyut kebudayaan tradisional di daerah.
Kini, momentum kesadaran telah bangkit. Kekuatan Indonesia justru terletak pada kebinakaan dan keberagaman budaya lokal di seluruh Nusantara yang menyatu dalam satu kesatuan yang harmonis.
Menjawab tantangan zaman, KPH Eddy Wirabhumi mengajak generasi muda untuk tidak mempertentangkan antara kemajuan teknologi seperti AI dengan keluhuran budaya.
“Sebaliknya, kecerdasan buatan harus dijinakkan dan dimanfaatkan sebagai alat transformatif untuk mendukung, mempromosikan, dan meningkatkan kecintaan terhadap kebudayaan lokal,” pesan KPH Eddy Wirabhumi.
Budaya harus dipahami secara holistik bukan sebatas seni pertunjukan, melainkan totalitas cara hidup, mulai dari etika berbahasa, cara berpakaian, hingga interaksi sosial.
Lebih jauh, beliau mengajak masyarakat untuk menggali kembali kearifan lokal masa lalu, seperti metode pengelolaan sumber daya alam yang ramah lingkungan dan bebas bahan kimia.
Terbukti secara historis, hasil bumi masa lalu jauh lebih melimpah dan berkelanjutan dibandingkan dengan metode modern yang bergantung pada zat kimia.
Secara khusus, KPH Eddy Wirabhumi memberikan catatan mendalam bagi wilayah Malang Raya. Beliau memaparkan bahwa Malang sebagai bagian dari wilayah timur memiliki akar peradaban yang jauh lebih sepuh dibandingkan dengan eksistensi Surakarta maupun Mataram era Sultan Agung.
“Sebagai wilayah yang melahirkan cikal bakal peradaban besar, Malang Raya memikul tanggung jawab moral untuk bangkit menjadi motor penggerak kebudayaan,” ungkapnya.
Sejarah mencatat, ketika pusat kekuasaan di barat menghadapi persoalan besar, kekuatan penyeimbang dan penguat selalu datang dari wilayah timur.
Oleh karena itu, generasi muda di Malang diharapkan mampu membuang jauh rasa inferior dan sebaliknya, mengobarkan kembali semangat sebagai episentrum kebudayaan yang luhur demi masa depan bangsa yang berkarakter.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Kawula Kraton Surakarta Malang Raya, Kanjeng Raden Aryo (KRA) Dwi Indotito Cahyono Adiningrat menegaskan bahwa Paguyuban Kawula Keraton Surakarta Hadiningrat (PAKASA) Cabang Malang Raya resmi memulai babak baru kepengurusan untuk periode 2026–2031.
Di bawah kepemimpinan Dwi Indotito Cahyono, organisasi yang berfokus pada pelestarian kearifan lokal ini tengah bersiap melakukan serangkaian gebrakan strategis, baik di tingkat internal maupun dalam memperluas jejaring sosial kemasyarakatan.
Langkah perdana yang akan segera digulirkan oleh kepengurusan baru ini adalah penyelenggaraan rapat kerja (Raker) guna merumuskan arah dan program kerja PAKASA Malang Raya ke depan.
Terdapat dua pilar utama yang menjadi fokus perhatian kepemimpinan periode ini, yaitu pembenahan manajerial internal organisasi serta peningkatan hubungan eksternal secara aktif.
“Langkah pertama kami adalah melakukan perbaikan internal organisasi agar gerak dinamis paguyuban berjalan lebih solid. Selanjutnya, kami akan menjalin hubungan eksternal yang lebih erat serta berkolaborasi dalam berbagai kegiatan bersama dengan para aktivis budaya di wilayah Malang Raya, khususnya di Kabupaten Malang,” ujar Dwi Indotito Cahyono.
Guna merealisasikan visi pelestarian yang inklusif, Dwi Indotito menekankan pentingnya mempererat tali silaturahmi serta memperkuat jalinan kerja sama antar-elemen masyarakat.
Gerakan uri-uri (melestarikan) budaya Jawa dinilai membutuhkan gotong royong yang melibatkan banyak pihak agar nilai-nilai luhur tradisi tetap berakar kuat di tengah masyarakat.
Sebagai wujud nyata dari gebrakan awal kepengurusannya, PAKASA Malang Raya mengagendakan rangkaian kunjungan kelembagaan ke berbagai cabang PAKASA di wilayah lain.
Kunjungan antar-wilayah ini dirancang sebagai ruang dialog budaya untuk saling menukar pandangan, berbagi praktik terbaik, serta merumuskan formula mutakhir demi kemajuan dan eksistensi kebudayaan Jawa secara berkelanjutan.
Secara historis, PAKASA dibentuk atas prakarsa Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Pakubuwana X dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Kehadiran paguyuban ini membawa misi sosiokultural yang mendalam, yakni menjembatani nilai-nilai luhur keraton dengan masyarakat luas.
Melalui wadah ini, eksklusivitas kebudayaan keraton dilebur menjadi milik masyarakat secara kolektif. Salah satu instrumen yang digunakan untuk membangun kedekatan dan memotivasi keterlibatan publik adalah pemberian gelar kehormatan (kekancingan) kepada tokoh masyarakat yang dinilai berjasa besar.
“Kebudayaan keraton bukanlah milik kalangan internal istana semata, melainkan milik masyarakat secara keseluruhan. Pemberian gelar atau ‘kekancingan’ dari keraton pada dasarnya merupakan pemantik semangat agar masyarakat semakin terdorong untuk bersama-sama menjaga, merawat, dan mengembangkan uri-uri budaya,” jelas Dwi Indotito.
Saat ini, kekuatan personel PAKASA di wilayah Malang Raya tercatat berada di kisaran 66 hingga 80 orang anggota aktif. Angka tersebut menjadi modal sosial yang kuat bagi organisasi untuk menjadi motor penggerak kebudayaan Mataram Surakarta Hadiningrat di wilayah Malang Raya, sekaligus memastikan bahwa gerak modernisasi daerah tidak kehilangan jati diri dan akar tradisinya.
















