Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Pendidikan

Museum Keliling Disdikbud Kota Malang Bawa Jejak Singhasari ke Sekolah

87
×

Museum Keliling Disdikbud Kota Malang Bawa Jejak Singhasari ke Sekolah

Sebarkan artikel ini
Jejak pengenalan sejarah kepada siswa (foto istimewa)

JATIMTERBARU.COM, MALANG KOTA — Pemerintah Kota Malang terus memperkuat pengenalan sejarah dan budaya daerah kepada generasi muda.

Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), program Museum Keliling menghadirkan pembelajaran sejarah secara langsung kepada siswa SDN Mergosono 2, Kecamatan Kedungkandang, Rabu (9/9/2026).

Example 300x600

Kegiatan ini dikemas berbeda dari pembelajaran sejarah konvensional. Tim Museum Keliling membawa arca sebagai media edukasi sehingga siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi dapat melihat langsung benda peninggalan sejarah dan memahami konteks budaya di baliknya.

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Malang, Juli Handayani, mengatakan pengenalan sejarah lokal perlu ditanamkan sejak pendidikan dasar.

Terlebih, wilayah Malang memiliki rekam jejak panjang sebagai kawasan penting dalam perkembangan kerajaan pada masa Hindu-Buddha.

“Selama ini banyak siswa tidak tahu bahwa ada kerajaan besar di Malang, yaitu Kanjuruhan dan Singhasari. Di sini kita perkenalkan, sekaligus kita bawa arca sebagai pembelajaran,” ujar Juli.Menurutnya, pembelajaran menggunakan benda bersejarah secara langsung dapat membuat materi lebih konkret dan mudah dipahami siswa.

Pendekatan tersebut sekaligus mendorong anak untuk bertanya dan mengenali sejarah yang berada di sekitar lingkungan mereka.

Penanggung jawab Museum Keliling Disdikbud Kota Malang, Rakai Hino Galeswangi, mengatakan siswa menunjukkan antusiasme tinggi selama kegiatan.

Untuk jenjang sekolah dasar di Kecamatan Kedungkandang, SDN Mergosono 2 menjadi salah satu sekolah yang mendapatkan kunjungan Museum Keliling pada tahun ini.

“Anak-anak cukup antusias dan aktif. Untuk SD tahun ini, di Kedungkandang kita mengunjungi Mergosono 2,” katanya.

Materi yang disampaikan berfokus pada sejarah Kerajaan Singhasari, mulai dari tokoh hingga perkembangan kerajaannya.

Edukasi tersebut juga menjadi penguatan materi mengenai cagar budaya dan peninggalan sejarah yang sebelumnya telah diperkenalkan kepada siswa.

Rakai turut memberikan pemahaman mengenai penggunaan istilah Singhasari dan Singosari yang kerap tertukar.

Singhasari merujuk pada nama kerajaan, sedangkan Singosari merupakan nama wilayah kecamatan di Kabupaten Malang.

“Singosari itu nama kecamatan. Kalau kerajaan, namanya Singhasari,” tegasnya.

Pemahaman tersebut dinilai penting sebagai bagian dari literasi sejarah sejak usia dini. Siswa juga dikenalkan dengan keterkaitan wilayah Kota Malang terhadap perkembangan Kerajaan Singhasari pada masa lampau.

“Minimal adik-adik tahu dulu bahwa wilayah Kota Malang itu dahulunya masuk di regional Kerajaan Singhasari,” jelas Rakai.

Materi kemudian dikaitkan dengan Museum Mpu Purwa dan koleksi peninggalan sejarah yang tersimpan di dalamnya.

Dengan pendekatan tersebut, siswa diajak memahami bahwa arca dan benda cagar budaya memiliki konteks sejarah serta menjadi bagian dari perjalanan masyarakat dan kebudayaan.

Kepala SDN Mergosono 2 Kota Malang, Joko Yuniarto, menyambut positif program tersebut. Ia menilai pembelajaran melalui benda bersejarah memberikan pengalaman yang lebih menarik sekaligus mendorong rasa ingin tahu siswa.

“Kami apresiatif terkait kegiatan yang dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dalam mengenalkan koleksi Museum Mpu Purwa, terutama di level dasar,” ungkap Joko.

Menurutnya, pengalaman melihat benda sejarah secara langsung dapat mendorong siswa menggali lebih jauh mengenai asal-usul, fungsi, dan cerita di balik peninggalan tersebut.

Joko berharap kegiatan tersebut mampu menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap sejarah dan budaya, khususnya warisan yang berada di Kota Malang.

“Paling tidak menumbuhkan kecintaan kepada budaya dan sejarah, secara umum Indonesia, dan secara khusus dalam lingkup perkembangan kehidupan masyarakat di Kota Malang,” tuturnya.

Ia juga berharap pengalaman mengikuti Museum Keliling dapat mendorong siswa berkunjung langsung ke Museum Mpu Purwa sehingga proses pembelajaran sejarah dapat berlanjut di luar lingkungan sekolah.

Melalui Museum Keliling, Disdikbud Kota Malang berupaya menjadikan sejarah sebagai pengetahuan yang hidup dan dekat dengan siswa.

Pengenalan jejak Kanjuruhan dan Singhasari sejak sekolah dasar diharapkan mampu membangun kesadaran sekaligus kebanggaan generasi muda terhadap identitas sejarah dan budaya daerah.(*)

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *