Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Pendidikan

Museum Keliling Telusuri Jejak Sejarah DAS Metro

101
×

Museum Keliling Telusuri Jejak Sejarah DAS Metro

Sebarkan artikel ini
Kabid Kebudayaan Disdikbud Kota Malang berikan bekal kepada siswa tentang sejarah DAS Metro (foto istimewa)

JATIMTERBARU.COM, MALANG — Jejak peradaban yang tumbuh di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Metro mulai dikenalkan kepada generasi muda. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang melalui program Museum Keliling mengajak siswa SDN Bakalan Krajan 2, Kecamatan Sukun, mengenali sejarah dan warisan budaya yang berada di sekitar lingkungan mereka.

Kegiatan tersebut tidak sekadar menghadirkan materi sejarah ke sekolah. Para siswa diajak melihat kawasan tempat mereka tinggal sebagai bagian dari ruang sejarah Kota Malang yang menyimpan berbagai tinggalan masa lalu, termasuk Watu Lumpang dan Situs Linggayoni.

Example 300x600

Penanggung Jawab Museum Keliling Disdikbud Kota Malang, Rakai Hino Galeswangi, menilai pengenalan sejarah akan lebih mudah dipahami apabila dikaitkan dengan lingkungan yang setiap hari mereka kenal.

Menurutnya, keberadaan situs bersejarah di sekitar Bakalan Krajan merupakan kesempatan untuk membangun rasa memiliki terhadap daerah sejak usia sekolah.

Anak-anak tidak hanya mengetahui nama sebuah situs, tetapi juga memahami bahwa keberadaannya memiliki hubungan dengan perjalanan kehidupan masyarakat pada masa lampau.

“Di sini ada Watu Lumpang dan Situs Linggayoni yang masih berada di lingkungan masyarakat. Karena itu, anak-anak perlu mengenalnya agar tumbuh kecintaan terhadap wilayahnya, khususnya kawasan DAS Metro,” kata Rakai.

Ia menjelaskan, kawasan DAS Metro memiliki nilai historis yang cukup penting karena menjadi salah satu ruang yang merekam perjalanan kehidupan dan kebudayaan masyarakat Malang dari masa ke masa.

Rakai menilai bahwa  tinggalan sejarah yang masih dapat ditemukan di tengah masyarakat bukan sekadar benda kuno.

Keberadaannya dapat menjadi penanda identitas lokal sekaligus media pembelajaran untuk memahami bagaimana sebuah wilayah berkembang dalam perjalanan sejarah.

“Anak-anak perlu memahami bahwa wilayah yang mereka tempati memiliki nilai khusus pada masa lalu. Peninggalan tersebut dapat menjadi simbol sekaligus bagian dari nilai lokal masyarakat,” ujarnya.

Materi yang diberikan dalam Museum Keliling juga membawa siswa mengenal kerajaan-kerajaan yang memiliki kaitan dengan perjalanan sejarah Malang. Salah satunya Kerajaan Kanjuruhan yang jejak keberadaannya antara lain tercatat dalam Prasasti Dinoyo I.

Rakai menerangkan, Prasasti Dinoyo I menjadi salah satu sumber penting dalam mengenali keberadaan Kanjuruhan dalam sejarah kawasan Malang.

Namun, ia mengingatkan bahwa setiap tinggalan memiliki konteks waktu dan lokasi yang berbeda. Situs-situs yang berada di kawasan Sukun dan Bakalan Krajan, misalnya, memiliki keterkaitan dengan periode Mataram Kuno maupun Singhasari.

Pemahaman berdasarkan konteks tersebut dinilai penting agar siswa tidak sekadar menghafal nama kerajaan, tetapi mampu melihat keterhubungan antara situs, wilayah, dan periode sejarah yang melatarbelakanginya.

Dalam kegiatan itu, siswa juga dikenalkan dengan Museum Mpu Purwa sebagai salah satu ruang penyimpanan dan pembelajaran sejarah Kota Malang.

Berbagai koleksi berupa arca, prasasti dan benda bersejarah menjadi media untuk membantu siswa memahami perkembangan kebudayaan di wilayah Malang.

Pendekatan tersebut membuat pembelajaran sejarah tidak berhenti pada koleksi yang tersimpan di museum.

Siswa juga diajak memahami bahwa sebagian jejak sejarah masih dapat ditemukan di lingkungan masyarakat dan memiliki keterkaitan dengan kehidupan daerah saat ini.

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Malang, Juli Handayani, mengatakan Museum Keliling dirancang untuk mendekatkan pengetahuan sejarah dan kebudayaan kepada siswa.

Menurutnya, pengenalan warisan budaya sejak dini menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran generasi muda terhadap identitas daerah.

Terlebih ketika objek sejarah yang dipelajari berada tidak jauh dari lingkungan kehidupan mereka.

Pembelajaran sejarah pun diarahkan tidak hanya pada kemampuan mengingat nama kerajaan, tahun kejadian maupun bentuk benda peninggalan.

Bukan hanya itu saja, siswa juga didorong untuk memahami nilai yang terkandung di balik setiap warisan budaya.

Kesadaran tersebut diharapkan dapat menumbuhkan sikap menghargai sekaligus kepedulian untuk menjaga keberadaan warisan sejarah yang masih tersisa.

“Pesan khususnya untuk adik-adik hari ini adalah supaya bisa menghargai nilai lokal yang ada di wilayahnya,” ujar Juli.

Program Museum Keliling di SDN Bakalan Krajan 2 pada akhirnya menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembelajaran sejarah yang lebih kontekstual.

DAS Metro tidak lagi sekadar dipahami sebagai bentang wilayah, tetapi juga sebagai ruang yang menyimpan cerita panjang perjalanan masyarakat dan kebudayaan Malang.

Bahkan para siswa mendapat pembekalan mengenal Watu Lumpang, Linggayoni hingga koleksi Museum Mpu Purwa menjadi pintu untuk memahami bahwa sejarah tidak selalu berada jauh di balik buku pelajaran.

Sebagian jejaknya justru masih hidup di sekitar mereka dan menjadi warisan yang perlu dikenali, dihargai, serta dilestarikan.(*)

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *