Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
BeritaPendidikan

OJK, BI dan LPS Bekali Mahasiswa Baru UIN Malang

113
×

OJK, BI dan LPS Bekali Mahasiswa Baru UIN Malang

Sebarkan artikel ini

JATIMTERBARU.COM, MALANG — Sebanyak lebih dari 2.000 mahasiswa baru Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang mendapat pembekalan literasi dan inklusi keuangan dari tiga lembaga strategis, yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Edukasi tersebut dikemas melalui kegiatan Kuliah Perdana Malang Mbois dalam rangkaian Road to Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026. Kegiatan digelar secara luring dan daring di Sport Center UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Senin (14/9/2026).

Example 300x600

Kolaborasi OJK, BI, dan LPS ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman generasi muda terhadap ekosistem keuangan.

Mahasiswa diperkenalkan dengan berbagai aspek penting, mulai dari sektor jasa keuangan, kebijakan moneter dan sistem pembayaran, hingga mekanisme penjaminan simpanan.

Kepala OJK Malang, Farid Faletehan, menekankan pentingnya sikap kritis mahasiswa dalam menyikapi berbagai penawaran produk keuangan yang semakin mudah ditemui, khususnya melalui platform digital.

Ia mengingatkan agar mahasiswa tidak mudah tergiur investasi dengan keuntungan tidak realistis maupun tawaran pinjaman yang tidak masuk akal.

Rendahnya pemahaman terhadap produk dan layanan keuangan, menurutnya, dapat meningkatkan risiko generasi muda terjerat layanan keuangan ilegal.

“Mahasiswa harus jeli dan waspada terhadap tawaran investasi maupun pinjaman yang tidak masuk akal. Selalu cek legalitasnya melalui OJK agar tidak menjadi korban keuangan ilegal yang dapat merugikan masa depan,” ujar Farid.

Materi edukasi kemudian dikemas dalam sesi talk show interaktif. Selain Farid Faletehan, kegiatan menghadirkan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang, Indra Kuspriyadi, serta Kepala Kantor Perwakilan LPS II Surabaya, Bambang S. Hidayat.

Ketiga narasumber memaparkan peran dan kewenangan masing-masing lembaga dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional. Mahasiswa juga diajak memahami pentingnya menggunakan produk serta layanan keuangan secara tepat, aman, dan bertanggung jawab.

Tidak hanya melalui sesi diskusi, edukasi juga diperluas melalui kehadiran sejumlah perusahaan sekuritas di area kegiatan. Melalui booth edukasi pasar modal, mahasiswa diperkenalkan pada investasi di pasar modal sekaligus didorong mengenal mekanisme pembukaan Rekening Dana Nasabah (RDN).

Anggota Komisi XI DPR RI, Hasanuddin Wahid, menilai literasi keuangan menjadi bagian penting dari keterampilan yang perlu dimiliki mahasiswa di tengah semakin kompleksnya pilihan produk finansial.

Menurutnya, pendidikan tinggi tidak hanya dituntut membekali mahasiswa dengan kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan praktis yang berkaitan dengan pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam mengelola keuangan.

“Kuliah saja tidak cukup, mahasiswa harus punya kemampuan untuk mengambil keputusan secara baik, salah satunya terkait keputusan keuangan. Itulah semangat yang melatarbelakangi terselenggaranya kegiatan ini,” kata Hasanuddin.

Apresiasi terhadap kegiatan tersebut juga disampaikan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Ilfi Nurdiana. Ia menilai kolaborasi antara OJK, BI, dan LPS memberikan manfaat strategis bagi mahasiswa, khususnya dalam membangun kesadaran finansial sejak memasuki lingkungan perguruan tinggi.

“Kami berharap kolaborasi seperti ini terus berlanjut, karena mahasiswa memang sangat membutuhkan bekal semacam ini sejak dini,” ujar Ilfi.

OJK Malang menegaskan komitmennya untuk terus memperluas sinergi bersama Bank Indonesia, LPS, pemerintah daerah, industri jasa keuangan, perguruan tinggi, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Sinergi tersebut diarahkan untuk memperkuat literasi sekaligus memperluas inklusi keuangan masyarakat di wilayah Malang, dengan generasi muda menjadi salah satu kelompok yang mendapat perhatian penting.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan tidak sekadar mengenal produk dan layanan keuangan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menilai risiko, mengambil keputusan finansial secara bijak, serta membangun kebiasaan pengelolaan keuangan yang sehat.

Bekal tersebut dinilai semakin penting di tengah perkembangan layanan keuangan digital yang memberikan kemudahan akses, namun sekaligus menghadirkan tantangan berupa maraknya penawaran investasi dan pinjaman ilegal yang menyasar masyarakat, termasuk kalangan mahasiswa.

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *