Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Berita

Riset UB dan Bappeda Petakan Klaster Ekonomi Kreatif di Malang

94
×

Riset UB dan Bappeda Petakan Klaster Ekonomi Kreatif di Malang

Sebarkan artikel ini

JATIMTERBARU.COM, MALANG – Universitas Brawijaya (UB) bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Malang memetakan potensi ekonomi kreatif (Ekraf) di lima kecamatan. Riset ini menganalisis karakteristik ekonomi wilayah selama periode 2022–2025. Hasilnya dapat membantu pemerintah menentukan strategi pengembangan ekonomi kreatif yang sesuai dengan potensi setiap kecamatan.

Departemen Statistika UB memaparkan hasil penelitian tersebut dalam diskusi bersama Bappeda Kota Malang, Senin (5/10/2026). Melalui kajian ini, kedua pihak berupaya memperkuat perencanaan pembangunan berbasis data. Analisis tersebut juga membantu mengidentifikasi konsentrasi aktivitas ekonomi, perbedaan kapasitas industri, dan peluang pengembangan usaha di setiap wilayah.

Example 300x600

Diskusi ini menghadirkan tujuh perwakilan Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Bappeda Kota Malang serta lima anggota tim Departemen Statistika UB. Tim universitas terdiri atas empat dosen dan seorang mahasiswa. Pertemuan tersebut menjadi ruang kolaborasi untuk membahas hasil riset sekaligus merumuskan masukan bagi kebijakan pembangunan daerah.

Kepala Bidang Litbang Bappeda Kota Malang, Yogi Handoyo Waseso, S.Sos., M.Si., membuka diskusi dengan menyoroti peran perguruan tinggi dalam mendukung perencanaan pembangunan. Ia menilai penelitian akademik dapat memperkaya analisis pemerintah dan membantu menghasilkan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Kolaborasi tersebut juga membuka peluang bagi pemerintah daerah untuk memanfaatkan hasil penelitian secara lebih luas. Dengan dukungan data dan kajian ilmiah, Bappeda dapat mempertimbangkan berbagai aspek sebelum menentukan prioritas pembangunan.

Statistisi Muda Bappeda Kota Malang, Riza Saadiah, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa ekonomi kreatif berperan penting dalam pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Indikator tersebut turut menggambarkan perkembangan ekonomi daerah dan menjadi salah satu tolok ukur kinerja pembangunan Kota Malang.

“Penghitungan PDRB ekonomi kreatif Kota Malang saat ini masih dalam tahap penyusunan laporan akhir. Kami berharap penelitian bersama Departemen Statistika UB dapat memperkaya analisis data lapangan sehingga gambaran perkembangan ekonomi kreatif di Kota Malang semakin komprehensif,” ujar Riza.

Untuk memperkuat basis data, Bappeda Kota Malang juga bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang melalui Program Kelurahan Cantik atau Kelurahan Cinta Statistik. Program ini melibatkan mahasiswa UB dan Universitas Negeri Malang (UM) dalam pengumpulan data melalui kuesioner perhitungan PDRB ekonomi kreatif.

Data tersebut tidak hanya menggambarkan aktivitas ekonomi, tetapi juga membantu pemerintah mengenali persebaran usaha dan karakteristik pelaku ekonomi kreatif. Informasi ini menjadi modal penting dalam menyusun program yang sesuai dengan kebutuhan setiap wilayah.

Dosen Departemen Statistika UB, Rahma Fitriani, S.Si., M.Sc., Ph.D., memaparkan hasil analisis spasial selama empat tahun. Penelitian itu mengelompokkan lima kecamatan di Kota Malang ke dalam dua klaster utama. Hasil analisis menunjukkan perbedaan karakteristik ekonomi yang memerlukan pendekatan pengembangan berbeda.

Klaster pertama mencakup Kecamatan Klojen dan Lowokwaru. Kedua kecamatan ini memiliki aktivitas pendidikan, perguruan tinggi, dan industri yang menonjol. Sementara itu, klaster kedua meliputi Kecamatan Blimbing, Kedungkandang, dan Sukun. Ketiga wilayah tersebut masih membutuhkan penguatan kapasitas industri untuk mengoptimalkan potensi ekonominya.

“Berdasarkan hasil pemetaan, Klojen dan Lowokwaru masuk klaster pertama, sedangkan Blimbing, Kedungkandang, dan Sukun berada di klaster kedua. Perbedaan karakteristik ini memberikan gambaran mengenai kebutuhan pengembangan ekonomi kreatif di masing-masing wilayah,” jelas Rahma.

Hasil pemetaan tersebut menunjukkan pentingnya strategi yang sesuai dengan karakteristik setiap kecamatan. Wilayah dengan aktivitas ekonomi yang berkembang dapat memperkuat inovasi dan daya saing. Sebaliknya, wilayah yang membutuhkan penguatan industri perlu mengoptimalkan sumber daya serta membangun ekosistem usaha yang mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif.

Dalam diskusi tersebut, Bappeda juga membandingkan hasil analisis dengan kondisi lapangan dan karakteristik 17 subsektor ekonomi kreatif. Pembahasan ini membantu kedua pihak memahami relevansi hasil riset terhadap dinamika kegiatan usaha di Kota Malang.

Kecamatan Klojen dan Lowokwaru memiliki karakteristik yang mendukung perkembangan ekonomi digital. Subsektor pengembang aplikasi dan permainan digital (game developer) menjadi salah satu bidang yang relevan dengan karakteristik tersebut. Selain itu, usaha kuliner juga menonjol di kedua kecamatan.

Sementara itu, Kecamatan Kedungkandang memiliki peluang pengembangan melalui ketersediaan lahan dan sumber daya manusia. Rahma menilai kedua aspek tersebut dapat mendukung pertumbuhan industri apabila pemerintah dan pelaku usaha mengelolanya melalui perencanaan yang tepat.

“Potensi lahan dan sumber daya manusia di Kedungkandang dapat menjadi modal pengembangan industri. Karena itu, pemerintah perlu mempertimbangkan karakteristik wilayah agar arah pengembangan ekonomi kreatif sesuai dengan potensi yang tersedia,” ungkap Rahma.

Selain memetakan potensi wilayah, tim peneliti dan Bappeda juga membahas tantangan dalam menjaga akurasi data ekonomi kreatif. Dinamika kegiatan usaha membuat informasi mengenai pelaku usaha cepat berubah. Sebagian pelaku usaha bahkan menghentikan operasional atau mengubah jenis kegiatannya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, mahasiswa Program Studi Sains Data UB yang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Bappeda Kota Malang membantu memetakan lokasi pelaku ekonomi kreatif. Mereka menggunakan data mentah hasil penelitian Bappeda tahun 2025 sebagai bahan pemetaan. Langkah ini membantu Bappeda memantau persebaran usaha dan memperbarui informasi secara berkala.

Perencana Muda Subkoordinator Inovasi dan Daya Saing Daerah Bappeda Kota Malang, Zakaria, S.AP., M.AP., menekankan pentingnya pembaruan data secara berkelanjutan. Menurutnya, perubahan kondisi pelaku usaha menuntut pemerintah melakukan analisis spasial secara berkala agar hasilnya tetap relevan.

“Analisis spasial ekonomi kreatif perlu dilakukan secara berkala karena data pelaku usahanya bersifat dinamis. Kami juga mengusulkan pembentukan forum bersama untuk mendiskusikan hasil penelitian agar informasi yang dihasilkan dapat terus dikembangkan dan dimanfaatkan,” kata Zakaria.

Pembaruan data secara rutin dapat membantu pemerintah mengenali potensi usaha baru, memantau perkembangan ekonomi kreatif, dan mengidentifikasi persoalan di lapangan. Dengan informasi yang lebih mutakhir, pemerintah dapat menyusun kebijakan berdasarkan kondisi aktual, bukan hanya mengandalkan data historis.

Riset ini juga mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Pada SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, pemetaan potensi wilayah dapat membantu pemerintah mengembangkan usaha, meningkatkan kapasitas pelaku ekonomi kreatif, dan memperluas peluang pertumbuhan ekonomi lokal.

Pendekatan tersebut juga sejalan dengan SDG 11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan. Melalui pemetaan karakteristik setiap kecamatan, pemerintah dapat menyusun perencanaan yang lebih tepat sasaran dengan mempertimbangkan persebaran aktivitas ekonomi dan potensi sumber daya lokal.

Selain itu, kolaborasi antara Bappeda, perguruan tinggi, dan mahasiswa mendukung SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan. Kerja sama lintas institusi ini memperkuat hubungan antara penelitian akademik dan kebutuhan pembangunan. Hasil kajian pun berpeluang memberikan masukan nyata bagi perencanaan serta evaluasi kebijakan daerah.

Pada akhir diskusi, Yogi menegaskan bahwa Bappeda Kota Malang membuka ruang bagi perguruan tinggi dan mahasiswa PKL untuk menyampaikan hasil penelitian. Ia menilai masukan akademik dapat memperkaya pertimbangan pemerintah dalam merumuskan kebijakan pembangunan.

Kolaborasi Bappeda Kota Malang dan Departemen Statistika UB diharapkan terus berlanjut melalui pembaruan data, pemetaan berkala, dan forum diskusi bersama. Upaya tersebut dapat membantu pemerintah memahami potensi ekonomi kreatif secara lebih akurat sekaligus menyusun strategi pembangunan yang terarah, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *