JATIMTERBARU.COM, MALANG – Akselerasi pertumbuhan ekonomi di kawasan Selatan Jawa Timur kini tidak lagi sekadar bertumpu pada pembangunan beton dan aspal.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur, melalui Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) III Malang, mulai menggeser fokus pada investasi kemanusiaan yang lebih fundamental : memperkuat daya saing para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar mampu bertaji di lanskap pasar digital.
Komitmen tersebut ditegaskan melalui agenda Fasilitasi Bidang Perdagangan bertajuk “Penguatan Pangsa Pasar Produk UMKM melalui Foto Produk, Desain Kemasan, dan Pemasaran Online” yang bertempat di Desa Sumberoto, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, Senin (20/7/2026).
Agenda tersebut diikuti sebanyak 30 pelaku UMKM binaan Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Malang ditempa untuk menembus batas pasar konvensional.
Bukan sekadar teori, para peserta yang berasal dari beranda selatan ini dibekali keterampilan praktis yang krusial di era modern: teknik fotografi produk berbasis gawai (smartphone), arsitektur desain kemasan, filosofi ‘branding’, legalitas usaha, hingga orkestrasi strategi pemasaran digital.
Etalase Visual: Kunci Menembus Pasar Global
Ditemui di ruang kerjanya pada Selasa pagi (21/7/2026), Kepala Bakorwil Malang, Asep Kusdinar, menegaskan bahwa transformasi kapasitas UMKM adalah pilar strategis dalam cetak biru pembangunan Koridor Selatan Jawa Timur sebagai episentrum pertumbuhan ekonomi baru.
“Pembangunan Koridor Selatan Jawa Timur tidak cukup hanya dengan membangun jalan atau jembatan. Yang tidak kalah penting adalah membangun manusianya, menghidupkan pelaku usahanya, serta menyuntikkan nilai tambah pada produk lokal agar mampu bersaing di panggung nasional bahkan global,” ujar Asep dengan nada optimis.
Asep menggarisbawahi ironi yang selama ini terjadi. Wilayah Selatan Jawa Timur melimpah dengan potensi alam, mulai dari sektor pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, hingga geliat ekonomi kreatif.
Sayangnya, berlian-berlian lokal ini kerap gagal bersinar optimal di pasar karena terbentur masalah klasik: kemasan yang bersahaja, absennya identitas branding, serta minimnya literasi digital.
Di era di mana layar ponsel telah bertransformasi menjadi pasar modern, kemasan dan estetika foto produk adalah penentu pertama keputusan konsumen.
“Produk kita sebenarnya berkualitas prima. Tantangannya adalah bagaimana mengemasnya agar tampil memikat, tepercaya, dan mudah ditemukan di belantara marketplace maupun media sosial. Inilah alasan kami menghadirkan pelatihan yang langsung menyentuh akar kebutuhan mereka,” imbuhnya.
Merajut Visi Megapolitan Melalui Kolaborasi Pentahelix
Langkah taktis di Donomulyo ini sejatinya merupakan bagian dari narasi besar menuju Road to Malang Raya Megapolitan.
Sebuah visi komprehensif yang menempatkan kawasan selatan bukan lagi sebagai wilayah pinggiran, melainkan motor penggerak ekonomi berbasis kearifan lokal.
“Kami ingin produk-produk unggulan dari Donomulyo, Bantur, Gedangan, Sumbermanjing Wetan, hingga kawasan pesisir eksotis lainnya tidak hanya menjadi jago kandang. Mereka harus mampu menembus pasar nasional bahkan pasar ekspor,” urai Asep.
Namun, pemerintah menyadari bahwa mereka tidak bisa berjalan sendiri dalam menjemput era digitalisasi ini.
Menghadiri kegiatan secara langsung untuk mewakili Kepala Bakorwil, Sekretaris Bakorwil Malang, Widodo Joko Santoso, menyatakan bahwa fasilitasi ini adalah wujud nyata kehadiran dan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam merangkul pelaku usaha di wilayah selatan.
Untuk itu, Bakorwil Malang terus mengedepankan pendekatan pentahelix, sebuah sinergi harmonis yang mengawinkan peran pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, hingga media massa untuk mengawal transisi UMKM menuju ekosistem digital.
Melalui program stimulan ini, Koridor Selatan Jawa Timur bersiap menyambut fajar baru: sebuah ekosistem tempat UMKM naik kelas dengan merek yang kuat dan kemasan yang profesional.
Pada akhirnya, perputaran omzet dari level desa ini diharapkan mampu menjadi pemantik utama dalam menciptakan lapangan kerja baru, mendongkrak kesejahteraan masyarakat, dan menekan angka kemiskinan secara berkelanjutan.
“Kalau UMKM naik kelas, ekonomi desa akan bergerak. Ketika ekonomi desa tumbuh, maka Koridor Selatan akan berkembang lebih cepat. Inilah harmoni yang terus kami orkestrasi,” pungkas Asep.


















